Air Mata Tinta
//Renungan, rintihan, bualan, khayalan, mimpi, kenangan, ekspresi kecintaan, dan hal-hal yang tak bisa membuat tidurku lelap...//

Berlebihan

17.12

Ah bosan aku membaca puisi yang merayap pada ranting lapuk
Mengecam musim yang tak menginginkan hujan hanya kabut bergelayut
Yang menakuti rumput dengan angin ribut
Menyerupakan hidup bak sembelit
Padahal beban seringan kapuk
Read On 0 komentar

Cermin Ujur

19.19




Keretakan bisa saja terjadi pada cermin tua
Setelah sekian lama hujan mencambukinya
bertubi-tubi
Meluruhkan pesonanya
Membiarkan setiap getir mengurut kerut makanya dalam basah
Dan kelopak mata yang mengendap pada titian takdir,
berharap mampu dijalani dengan bantuan khayal dan mimpi-mimpi.

Read On 0 komentar

Hujan dan Sepi

00.01
Di tempat ini, Hujanseperti peluru
Mendesing
Dan Aku suka caramu melarikan diri
Mendengkur
Tunggu
Aku Menyusul
Read On 0 komentar

Rumpiang Kusangka Jembatan Barito

09.32
Sepanjang hari aku berpikir, sepanjang hari aku rasakan, tapi semua yang kurasakan itu tak pernah terwujud. Hanya, menghasilkan kebahagian sesaat kala bercumbu dengannya di kejauhan. Tak pernah kusaksikan wajahnya nampak di depan mata. Hanya saja rasa itu terus membisiki hati untuk mengejarnya.

Setiap hari merindukannya setiap hari ingin mencumbunya. Hingga, jarak pun tak pernah mampu menaklukkan rasa inginku untuk menjumpainya. Aku merasa diriku tiada dalam kerinduan ini, hingga berapa kilometer telah kutapaki. Namun kusadari, rencana manusia tak pernah sebaik rencana Tuhan. Ketika, puluhan kilometer dari kota asalku, sayup-sayup terdengar dengan nada lembut perlahan, “Sorry Zein, aku sudah tak sendiri lagi.”

Suara pelan dari speaker Handphone itu, menusuk hatiku. Meski pelan, aku seakan tak pernah percaya itu terucap dari bibirnya.

Pelan tapi pasti, begitulah kerja sebuah racun yang bisa mematikan makhluk yang bernyawa. Pernyataan itu membuatku tak berdaya. Penantian yang panjang terasa melelahkan dan menghasilkan kesia-siaan.

Aku yang saat itu tergelepar di sebuah rumah kecil, harus menahan dingin di hawa panas badanku yang sedang memuncak.

Semangatku tak seperti ketika keberangkatan dari kost menuju rumahnya. Kala itu, Aku nyanyikan lagu-lagu perjuangan untuk menggugah semangat juang. Bahkan, ketika kulewati jembatan rumpiang yang semula kukira jembatan barito. Kuphoto jembatan itu buat kenang-kenangan cintaku kelak.

Hari yang panas dan debu kala itu cukup membuatku gerah berkata, “Lebih baik pulang nak, kau belum tahu jalan ini.” ajakannya tak pernah kuhiraukan, sebab aku percaya instingku kala itu lebih tajam.

Rencana yang matang dalam sebuah kejutan sudah kupersiapkan; mula-mula kejutan itu akan kumulai dengan panggilan telepon, “Hallo, sore….” Dia akan menjawab dengan jawaban khasnya, “Siapa nich?” yang diulangnya 3 kali. Aku yang menunjukkan kesabaran sok lugu berujar, “Zein (nama panggilanku).” Dan dia akan menerka-nerka seolah tak pernah mengenalku, “Jin?.” “bukan, Zein.” “Jan?,” ujarnya bertanya seakan nomor Handphone-ku tak pernah disimpannya. Padahal, kuyakin ia menyimpan dengan baik nomor Hp-ku.

“Zein, cowok yang pernah berusaha nelponmu beratus kali dalam satu malam,” kuberi penegasan. “Oh Zein, ada apa?” ia bertanya lagi dengan suara cekikian. Mungkin, bagi sebagian orang, sikap yang demikian merupakan penghinaan. Tapi sang musafir cinta yang satu ini beranggapan, mungkin beginilah cara bidadari kayangan bercanda.

“Aku akan memberimu sebuah kejutan,” ungkapku. “Kejutan apa?” dengan nada yang meragukan. “Kau tak mungkin menemukanku hari ini Zein,” sambungnya sembari tertawa, yang cukup melemahkan nyali.

“Kalau aku bisa menemukanmu hari ini, apa yang kau pertaruhkan untuk itu?”

“Kau, boleh minta satu hal untuk menebus kekalahanku, tapi jika tak mampu, kau harus lupakan aku, bagaimana?”

“Deal,”

“yakin banget, emang kamu dimana? di Banjarmasin ya, haha.”

“Emang kamu di Banjarmasin?” tanyaku.

“Aku sedang diluar kota Banjarmasin, hahaha, kayanya lebih baik bungkus aja kejutan itu, dan siap-siap melupakanku, hahaha,” paparnya penuh kegirangan.

Aku pun mengkondisikan diriku dalam kekalahan. Dan langsung melakukan rencana selanjutnya. Yakni, mengetuk pintu rumah, seolah pengantar kue pesanan ayahnya.

Dengan topi yang kutarik ke depan dan menutup mukaku, “Selamat sore mba? Ini kue pesanan bapaknya,”

Ia pun celingukan, “Kayaknya gak ada yang pesan deh mas.”

“Maaf sebelumnya mba, nama saya bukan mas,”

“Ia aku ngerti, karena aku tak kenal sama sampean, makanya saya panggil mas,” ujarnya kesal.

“Mba, ini ngaku tak pernah kenal sama aku lagi,” ujarku seperti orang lugu.

“Emang, siapa sich sok kenal banget,”

Seraya membuka topi, aku akan berkata, “Namaku Zein dan membawa permintaan cinta untukmu? Bukankah kau sudah janji akan memberikannya untukku.” Matanya, akan terbelalak dan berkata, “Aku tak seserius itu Zein.”

“Oh jadi, ratusan kilometer yang kutempuhi ini belum cukup untuk membuktikan kecintaanku padamu,”

“Bukan begitu,”

“Ya, sudahlah, kalau memang kau tak bisa menerimanya, kayanya aku benar-benar akan membungkus asaku,” tuturku seraya membalikkan badan.

Aku pun pamitan, dan berjalan menuju motor butut yang selalu setia menemaniku.

Tiba-tiba, Handphone-ku bergetar, rupanya bidadari itu meng-sms. Aku pun membukanya dengan lesu. Sebab, dalam perkiraanku ia akan meminta maaf akan janjinya yang tak bisa ditepati.

Tetapi, sms itu bertuliskan, ‘Zein lihat aku di jendela.’

Aku pun mengarahkan mataku ke jendela rumahnya. Ia mengangguk dan mengajakku berbalik ke rumahnya.

Belum tahu, apa yang akan dilakukannya sekembaliku ke rumah itu. Lelaki tua yang punya rumah terlebih dulu menyadarkanku dengan menyodorkan kurma, karena waktu berbuka puasa sudah tiba.

Rupanya aku termenung panjang, setelah meminum obat demam tadi malam.

Keesokan harinya, aku bercerita banyak dengan orang tua yang selama ini rumahnya kutumpangi. Yakni, maksud tujuanku untuk ke Palangkaraya; mengutarakan cinta yang sudah bertahun-tahun kupendam.

Namun, alangkah terkejutnya aku mendengar jawaban orang tua itu, ia berujar, “Maaf nak ya, ini bukan kota tujuanmu (palangkaraya), tapi ini kota marabahan.”

Lantas, jembatan yang panjang dan megah itu jembatan apa?” tanyaku penuh kebingungan.

“Itu jembatan rumpiang yang baru selesai di bangun,” jelasnya.

Aku mendapatkan kelesuan yang tak terkira, kepalaku tertunduk mencapai lantai, detak jantungku kala itu tak berani berdetak kencang, sementara nafasku tanpa permisi keluar masuk dengan mengendap-endap.

Otakku yang semula lancar memikirkan sesuatu tiba-tiba mengambil cuti kerja. Aku tak berdaya, sebab bekal keberangkatanku hanya tertinggal pakaian yang melekat di tubuh yang sudah usang, karena sakit yang kuderita selama tiga malam.

Aku telah gadaikan barang berharga yang kupunya, Hp, Jam tangan untuk membeli obat.

Mendengar penjelasan itu, aku pun meminjam hp orang tua itu untuk mengutarakan cintaku.

“Assalamualaikum,”

“siapa nich?’

“Zein”

Kenapa Zein?

Aku, aku, …?”

Aku apa, gak jelas…?”

“Aku pengen katakan sesuatu,”

“Katakan aja”

“Emang kamu nggak marah,”

“Apa dulu,”

“Aku sebenarnya cinta sama kamu,”

“Dia diam, “Sorry Zein, aku sudah ada yang punya.”

“Oh..bagus lah kalo gitu, aku minta maaf sudah mengganggu,”

“Yu”

Seraya mematikan Hp, aku minta izin untuk merebahkan diri.

Sebagai tanda terima kasih kepada orangtua yang telah memberikan tumpangan dan perawatan selama kusakit, aku gadaikan motor bututku, hasilnya setengah kuberikan padanya.

Meski, sakitku belum seratus persen pulih, aku paksakan diriku untuk berangkat pulang, membungkus harapan yang sudah tak bisa diteruskan.***

Read On 0 komentar

Obat Demamku

20.10

Kucari obat di apotik ternama sepagi itu

Mengunyah dengan lidah terpaksa

Tapi, thermometer masih saja menunjukkan angka yang sama

Suatu pesan singkat ku terima “Ulun sayang banar lawan pian”

Hebat, demamku turun mengejutkan

Rupanya, demam itu rindu yang tak tertahankan.

Read On 0 komentar

Mengapa Kita Bisa Bahagia

20.06

Gelap kopi masih bergelayutan

Meski hari bening menyilaukan

Kamar empat kali empat, menjadi kediaman

Duduk mesra dengan renungan

Malam menjenguk dengan kedipan mata yang padam

Melintas bayangmu dikejauhan

Mendekat,

Lebih dekat

Kita bertatap dalam khayal

Karena kerinduan yang dalam

Angan pun mendekap, hinggap disela-sela syaraf yang tak kunjung menjawab ketika ditanya, “Mengapa kita bahagia, hanya dengan kata cinta?”

Read On 0 komentar

Mengukur Jarak Tapin di Kerinduan

19.32


Di sorot mata 5 watt tanpa kedip

Sebab kasur tak lagi membuatnya tersungkur,

dan lelap ketika orang mendengkur

Gerimis shubuh di Februari membuatnya gelisah

Pesan singkat yang membuatnya resah

Jarak tak menjadi ukuran, antara cinta dan kerinduan

Sepanjang itu kutapaki

Sedalam ini kurasakan

Aku cinta katamu waktu itu,

Aku tahu

Aku juga begitu

Read On 0 komentar

Rindu yang Tersalahkan

08.54
Diantara sibuk
Cinta terserak di jalan
Menuntut sepi dengan bising
Rindu terkelupas ulah senda gurau
Menafakkurkan dosa yang bertanya, “Kenapa aku jadi terhina?”
Kemudian mengemis “ampun” agar Tuhan memakluminya.
Read On 0 komentar

Yakin yang Bersengatan

08.48
Kami-lah anak ayam yang melompat dari ketinggian
Bermimpi seperti anak elang yang mampu mengembangkan sayap
Tanpa perhitungan
Tanpa sayap parasut
Hanya nyali, menjadi bekal pemompa keyakinan
“Nekat,” kata orang
Senyap berujar, “Persetan dengan keraguan.”
Read On 0 komentar

Diri yang Tak Terhargai

17.56

Dideretan kursi panjang sebuah tubuh terkantuk

Kering, menggelepar malam

Menghisap sisa-sisa dini hari di secarik gerimis

Dengan sedikit kepastian, siang akan kembali lengang


Sebongkah mata menganga pelan

Langit menyapanya dengan gigil

Tubuh pucat tak punya api

Lari mencari teduh, beku yang didapati


Kepala tertunduk tak berenergi

Tubuh yang tak lagi punya taji

Hanya punya nyali, untuk menahan senyum,

melototkan mata atau mengernyitkan dahi


Gelisah itu tak terperi

Bukan soal materi

Tapi, diri yang tak perlu dihargai dengan setangkai kunci

(Banjarmasin, 21 Desember 2010)



Read On 0 komentar

5 Tahun Akrabi Malam

17.47
Ada retak yang tak terkira di dalam dada

Bukan kaca atau tembok tua

Satu hentakan membuatnya geleng kepala

Bagaimana harus merekatkannya?



5 tahun berlalu dengan renungan

Terkadang mimpi menjenguk di terang

Meski dengan sedikit igauan

Ia tertidur panjang



Siapa di samping, tak terhiraukan

Selalu terlelap saat hening maupun bising

Mencari sajak di rerumputan kering

Hilang digonggongan anjing.

(Banjarmasin, 21 Desember 2010)


Read On 0 komentar

Tembok Lembut Masa Kecilku

17.09

Mungkin hari ini ulangtahunmu

Perempuan yang menggendong ketika manja

Mengusap air liyur berceceran di dagu

Membonceng ketika meniti sepeda laju


Menghardik orang yang melukaiku

Menahan deras air mataku

Membungkam ratapan dengan uang saku

Meski itu membeli harapan buku barumu

*Terima kasih atas semunya, aku sekarang tak secengeng itu, meski air mataku becucuran menuliskan tulisan ini, Happy birthday my sister

(Banjarmasin, 21 Desember 2010)

Read On 0 komentar

Gulali VS Kopi dan Gula

21.28
Air mataku tumpah ketika melihat kopi dan gula dalam sebuah gelas kaca yang belum disirami air panas. Ingatanku melang-lang buana ke masalaluku di kampung lima belas tahun silam. Tepatnya, ketika aku masih duduk di sekolah dasar. Waktu itu tak ada makanan layak yang bisa kumakan, tak ada roti selai rasa nanas atau strawberry di meja makan.

Uang jajanku hanya berkisar 200 perak, itu pun jika buah-buahan hasil panen perkebunan kecil-kecilan orangtuaku laku dijual ke pasar. Sabtu adalah dimana hari pasar sejumput di kampung sebelah yang mungkin jaraknya 6 kilometer dari kediamanku. Dan seperti kebanyakan anak-anak kecil yang belum dapat uang jajan, aku harus bersabar menahan keinginan untuk membeli gulali.

Sejak pukul 07.00 wita aku berada di bawah pohon rindang depan sekolah itu, sesekali duduk dan melihat-lihat di ujung jalan, apakah Nampak rombongan ibu pejalan kaki memikul lanjung –nama alat yang biasa dipakai petani untuk membuat rempah-rempah dari sawah- atau tidak. Itu-lah harapanku satu-satunya agar hasrat lidahku bisa terpenuhi.

Tiba-tiba dua orang ibu memikul lanjung terlihat dari kejauhan. Namun, gerak jalannya berbeda dengan gerak jalan ibuku, dan ketika orang itu makin mendekat, kebenaran itu mulai terpecahkan, yakni ia bukan ibuku, melainkan ibu temanku.

“Tante, ada liat ibuku nggak?” tanyaku ramah. Ibu itu menjawab, “Tadi, jualan ibumu belum laku. Mungkin sebentar lagi.”

Aku pun kembali duduk di tempat semula, sembari melirik gulali merah yang Nampak sangat manis. Kulihat lidah-lidah merah temanku menjilatinya dengan riang gembira, aku hanya bisa tertunduk lalu diam-diam mereguk air liyur yang tak bisa lagi kutahan.

Jam sudah berumur 7.30 wita, dengan begitu lonceng pun berbunyi tanda masuk kelas. Aku masih belum mau masuk, berharap ibuku nampak di kejauhan dan aku akan mengejarnya. Namun, keberuntungan itu ternyata tak menghampiri waktu itu, ibuku tak kunjung tampak, dan keinginan untuk menjilat gulali itu pun harus kusimpan untuk sementara waktu. Sebab, masih ada waktu istirahat, pikirku.

Aku pun berucap pada paman penjual gulali, “Pak, jangan pulang dulu tunggu sampai istirahat ya.” Aku pun masuk kelas dengan sedikit muram, tak ada pelajaran yang bisa kutangkap, yang ada dalam benakku hanyalah gulali. Sehingga, ketika ditanya lima tambah dua atau pertanyaan lain yang biasa kujawab tanpa berhitung pun tak mampu kuucapkan. Semua angka apapun yang ditambah, dikurang, dikali, dibagi, hasilnya adalah gulali. Tak ada angka yang ada cuma gulali manis.

Wali kelas memanggilku ke depan, dia berujar dengan lantang, “Hei kau inikan masuk rangking tiga besar, masa jawab pertanyaan ini saja kamu tidak bisa?” aku diam, tak ada yang bisa kuucapkan, tak ada angka yang keluar dai mulutku.

“Jika kau tetap diam, maka kau tetap berdiri disitu,” ujarnya.

Aku tetap diam, dan membiarkan tubuh mungilku berdiri menatap mata teman-temanku yang mengarah kepadaku. Ada pula yang mengeluarkan lidah merah (bekas makan gulali) itu kepadaku.

Dan aku tetap bungkam, hingga lonceng pertanda istirahat berbunyi aku minta izin pada guruku untuk keluar. Aku berlari menuju rumahku berharap ibuku sudah datang membawakan uang. Dan sekali lagi perkiraanku betul, namun tidak sepenuhnya benar.

Ibuku benar telah datang, duduk lesu di depan pintu. Aku menghampirinya dan memeluknya dengan erat, “Ibu minta uang, buat beli gulali.” Ibuku menjawab pelan, “Besok saja ya, hari ini jualan ibu nggak ada yang laku.”

Aku memeriksa lanjung bawaannya yang kosong. “Kalau benar tak laku, kenapa lanjung ibu kosong,” ujarku mempertanyakan. “Karena tidak laku, makanya buahnya ibu berikan saja. Sudah sana, cari makanan yang ada di dapur saja,” jelasnya.

Huuuuuuuuh, aku menghela nafas panjang. Sembari berjalan ke dapur, diam-diam aku menyapu air mataku yang menetas tak tertahankan. Dan keinginan menjilati gulali manis harus dikubur dalam-dalam.

Setelah beberapa langkah masuk rumah, aku sudah menemukan dapur kosong, tak ada makanan yang bisa dimakan, hanya ada dua bungkus berisikan serbuk warna hitam dan manisan yang mengkristal. Akhirnya dua bungkus plastik itu kupadukan dalum satu bungkus kecil, yang hitam memberikan harum dan yang putih memberikan rasa manis.

“Tak ada gulali, kopi dan gula pun jadi…!”

Sembari mencicipi isi plastik itu aku berjalan kembali menuju sekolah dengan sedikit senggukan rahasia, dan sesekali airmata membasahi plastik yang kubawa. Meski tak semanis gulali, tapi hal itu cukup membuatku untuk menjawab angka-angka. Dan kejadian serupa tak hanya sekali ini saja, melainkan tak terhitung berapa seringnya.
Read On 0 komentar

Komentar Sahabat

Online

Berlangganan Via Email

Pengunjung

Sahabatku