Air Mata Tinta
//Renungan, rintihan, bualan, khayalan, mimpi, kenangan, ekspresi kecintaan, dan hal-hal yang tak bisa membuat tidurku lelap...//

Rumpiang Kusangka Jembatan Barito

09.32
Sepanjang hari aku berpikir, sepanjang hari aku rasakan, tapi semua yang kurasakan itu tak pernah terwujud. Hanya, menghasilkan kebahagian sesaat kala bercumbu dengannya di kejauhan. Tak pernah kusaksikan wajahnya nampak di depan mata. Hanya saja rasa itu terus membisiki hati untuk mengejarnya.

Setiap hari merindukannya setiap hari ingin mencumbunya. Hingga, jarak pun tak pernah mampu menaklukkan rasa inginku untuk menjumpainya. Aku merasa diriku tiada dalam kerinduan ini, hingga berapa kilometer telah kutapaki. Namun kusadari, rencana manusia tak pernah sebaik rencana Tuhan. Ketika, puluhan kilometer dari kota asalku, sayup-sayup terdengar dengan nada lembut perlahan, “Sorry Zein, aku sudah tak sendiri lagi.”

Suara pelan dari speaker Handphone itu, menusuk hatiku. Meski pelan, aku seakan tak pernah percaya itu terucap dari bibirnya.

Pelan tapi pasti, begitulah kerja sebuah racun yang bisa mematikan makhluk yang bernyawa. Pernyataan itu membuatku tak berdaya. Penantian yang panjang terasa melelahkan dan menghasilkan kesia-siaan.

Aku yang saat itu tergelepar di sebuah rumah kecil, harus menahan dingin di hawa panas badanku yang sedang memuncak.

Semangatku tak seperti ketika keberangkatan dari kost menuju rumahnya. Kala itu, Aku nyanyikan lagu-lagu perjuangan untuk menggugah semangat juang. Bahkan, ketika kulewati jembatan rumpiang yang semula kukira jembatan barito. Kuphoto jembatan itu buat kenang-kenangan cintaku kelak.

Hari yang panas dan debu kala itu cukup membuatku gerah berkata, “Lebih baik pulang nak, kau belum tahu jalan ini.” ajakannya tak pernah kuhiraukan, sebab aku percaya instingku kala itu lebih tajam.

Rencana yang matang dalam sebuah kejutan sudah kupersiapkan; mula-mula kejutan itu akan kumulai dengan panggilan telepon, “Hallo, sore….” Dia akan menjawab dengan jawaban khasnya, “Siapa nich?” yang diulangnya 3 kali. Aku yang menunjukkan kesabaran sok lugu berujar, “Zein (nama panggilanku).” Dan dia akan menerka-nerka seolah tak pernah mengenalku, “Jin?.” “bukan, Zein.” “Jan?,” ujarnya bertanya seakan nomor Handphone-ku tak pernah disimpannya. Padahal, kuyakin ia menyimpan dengan baik nomor Hp-ku.

“Zein, cowok yang pernah berusaha nelponmu beratus kali dalam satu malam,” kuberi penegasan. “Oh Zein, ada apa?” ia bertanya lagi dengan suara cekikian. Mungkin, bagi sebagian orang, sikap yang demikian merupakan penghinaan. Tapi sang musafir cinta yang satu ini beranggapan, mungkin beginilah cara bidadari kayangan bercanda.

“Aku akan memberimu sebuah kejutan,” ungkapku. “Kejutan apa?” dengan nada yang meragukan. “Kau tak mungkin menemukanku hari ini Zein,” sambungnya sembari tertawa, yang cukup melemahkan nyali.

“Kalau aku bisa menemukanmu hari ini, apa yang kau pertaruhkan untuk itu?”

“Kau, boleh minta satu hal untuk menebus kekalahanku, tapi jika tak mampu, kau harus lupakan aku, bagaimana?”

“Deal,”

“yakin banget, emang kamu dimana? di Banjarmasin ya, haha.”

“Emang kamu di Banjarmasin?” tanyaku.

“Aku sedang diluar kota Banjarmasin, hahaha, kayanya lebih baik bungkus aja kejutan itu, dan siap-siap melupakanku, hahaha,” paparnya penuh kegirangan.

Aku pun mengkondisikan diriku dalam kekalahan. Dan langsung melakukan rencana selanjutnya. Yakni, mengetuk pintu rumah, seolah pengantar kue pesanan ayahnya.

Dengan topi yang kutarik ke depan dan menutup mukaku, “Selamat sore mba? Ini kue pesanan bapaknya,”

Ia pun celingukan, “Kayaknya gak ada yang pesan deh mas.”

“Maaf sebelumnya mba, nama saya bukan mas,”

“Ia aku ngerti, karena aku tak kenal sama sampean, makanya saya panggil mas,” ujarnya kesal.

“Mba, ini ngaku tak pernah kenal sama aku lagi,” ujarku seperti orang lugu.

“Emang, siapa sich sok kenal banget,”

Seraya membuka topi, aku akan berkata, “Namaku Zein dan membawa permintaan cinta untukmu? Bukankah kau sudah janji akan memberikannya untukku.” Matanya, akan terbelalak dan berkata, “Aku tak seserius itu Zein.”

“Oh jadi, ratusan kilometer yang kutempuhi ini belum cukup untuk membuktikan kecintaanku padamu,”

“Bukan begitu,”

“Ya, sudahlah, kalau memang kau tak bisa menerimanya, kayanya aku benar-benar akan membungkus asaku,” tuturku seraya membalikkan badan.

Aku pun pamitan, dan berjalan menuju motor butut yang selalu setia menemaniku.

Tiba-tiba, Handphone-ku bergetar, rupanya bidadari itu meng-sms. Aku pun membukanya dengan lesu. Sebab, dalam perkiraanku ia akan meminta maaf akan janjinya yang tak bisa ditepati.

Tetapi, sms itu bertuliskan, ‘Zein lihat aku di jendela.’

Aku pun mengarahkan mataku ke jendela rumahnya. Ia mengangguk dan mengajakku berbalik ke rumahnya.

Belum tahu, apa yang akan dilakukannya sekembaliku ke rumah itu. Lelaki tua yang punya rumah terlebih dulu menyadarkanku dengan menyodorkan kurma, karena waktu berbuka puasa sudah tiba.

Rupanya aku termenung panjang, setelah meminum obat demam tadi malam.

Keesokan harinya, aku bercerita banyak dengan orang tua yang selama ini rumahnya kutumpangi. Yakni, maksud tujuanku untuk ke Palangkaraya; mengutarakan cinta yang sudah bertahun-tahun kupendam.

Namun, alangkah terkejutnya aku mendengar jawaban orang tua itu, ia berujar, “Maaf nak ya, ini bukan kota tujuanmu (palangkaraya), tapi ini kota marabahan.”

Lantas, jembatan yang panjang dan megah itu jembatan apa?” tanyaku penuh kebingungan.

“Itu jembatan rumpiang yang baru selesai di bangun,” jelasnya.

Aku mendapatkan kelesuan yang tak terkira, kepalaku tertunduk mencapai lantai, detak jantungku kala itu tak berani berdetak kencang, sementara nafasku tanpa permisi keluar masuk dengan mengendap-endap.

Otakku yang semula lancar memikirkan sesuatu tiba-tiba mengambil cuti kerja. Aku tak berdaya, sebab bekal keberangkatanku hanya tertinggal pakaian yang melekat di tubuh yang sudah usang, karena sakit yang kuderita selama tiga malam.

Aku telah gadaikan barang berharga yang kupunya, Hp, Jam tangan untuk membeli obat.

Mendengar penjelasan itu, aku pun meminjam hp orang tua itu untuk mengutarakan cintaku.

“Assalamualaikum,”

“siapa nich?’

“Zein”

Kenapa Zein?

Aku, aku, …?”

Aku apa, gak jelas…?”

“Aku pengen katakan sesuatu,”

“Katakan aja”

“Emang kamu nggak marah,”

“Apa dulu,”

“Aku sebenarnya cinta sama kamu,”

“Dia diam, “Sorry Zein, aku sudah ada yang punya.”

“Oh..bagus lah kalo gitu, aku minta maaf sudah mengganggu,”

“Yu”

Seraya mematikan Hp, aku minta izin untuk merebahkan diri.

Sebagai tanda terima kasih kepada orangtua yang telah memberikan tumpangan dan perawatan selama kusakit, aku gadaikan motor bututku, hasilnya setengah kuberikan padanya.

Meski, sakitku belum seratus persen pulih, aku paksakan diriku untuk berangkat pulang, membungkus harapan yang sudah tak bisa diteruskan.***

Read On 0 komentar

Komentar Sahabat

Online

Berlangganan Via Email

Pengunjung

Sahabatku